Imam Nahrawi Tersangka KPK, Ngabalin: Otomatis Mundur dari Menpora

Imam Nahrawi Tersangka KPK, Ngabalin: Otomatis Mundur dari Menpora

FOTO : Menpora Imam Nahrawi.(IST)…

JAKARTA (Otonominews) - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi resmi ditetapkan sebagai tersangka suap terkait pemberian dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tahun Anggaran 2018.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga Menpora menerima uang sebesar Rp26,5 miliar sebagai bentuk commitment fee pengurusan proposal yang diajukan KONI kepada Kemenpora. Dalam kasus ini, selain Imam, KPK juga menetapkan asisten pribadi menpora, Miftahul Ulum sebagai tersangka.

Atas ketetapan KPK ini, Imam Nahrawi diminta segera mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Menpora.

Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin mengatakan secara otomatis Imam Nahrawi harus mundur dari jabatan Menpora.

"Iya secara otomatis [mundur sebagai menteri]. Diminta tidak diminta secara otomatis itu," 

 

Ngabalin mengaku belum tahu apakah Imam sendiri sudah menyampaikan surat pengunduran diri kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). 

Soal pengganti Imam, Ngabalin mengatakan belum bisa memastikan apakah Jokowi akan langsung melakukan perombakan kabinet atau tidak.

"Kalau itu [perombakan kabinet] tentu menjadi hak prerogatif presiden seperti apa nanti tentu Bapak Presiden yang memiliki kewenangan terkait dengan penetapan tersangka Pak Imam Nahrawi," ujarnya.

Ngabalin menegaskan, penetapan Imam sebagai tersangka itu membuktikan Jokowi tak mengintervensi penegakan hukum yang tengah dilakukan KPK. Ia juga menyebut siapapun tak bisa mengintervensi KPK.

"Ini sebagai bukti bahwa pemerintah atau Bapak Presiden tidak mengintervensi kerja-kerja yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, itu satu," tuturnya.

Diketahui, kasus yang menjerat Menpora ini merupakan pengembangan kasus dari operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK. Pada kasus awal, KPK menjerat 5 tersangka, yaitu Ending Fuad Hamidy, Johnny E Awuy, Mulyana, Adhi Purnomo, dan Eko Triyanto.

Ending dijerat dalam jabatannya sebagai Sekjen KONI, sedangkan Johnny sebagai Bendahara Umum KONI. Baik Ending maupun Johnny telah divonis bersalah dalam pengadilan, dengan hukuman 2 tahun 8 bulan penjara bagi Ending dan 1 tahun 8 bulan penjara bagi Johnny.

Sedangkan 3 orang lainnya, yaitu Mulyana, Adhi Purnomo, dan Eko Triyanto, masih menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Populer Berita