Koalisi Rakyat Menara Limboto Terbentuk Lebih Dulu

NasDem: Koalisi NKRI, Bentuk Kepanikan Rusli Habibie

NasDem: Koalisi NKRI, Bentuk Kepanikan Rusli Habibie

FOTO : Ketua DPC Partai NasDem Kabupaten Gorontalo, Dr. Rustam HS Akili, SE., SH., MH., Bersama Koalisi Rakyat Menara Limboto…

LIMBOTO (otonominews) - Dalam rangka menyatukan visi membangun Provinsi Gorontalo, delapan partai politik menggelar pertemuan di kediaman pribadi Ketua DPD I Partai Golkar Rusli Habibie, Kelurahan Moodu, Selasa (11/06/2019). Dalam pertemuan itu disepakati terbentuknyaKoalisi NKRI di DPRD Provinsi Gorontalo. 

Dari delapan partai politik yang direncanakan akan hadir, hanya enam yang tampak, antara lain Nelson Pomalingo dan Awaludin Pauweni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Kris Wartabone, Laode Haimudin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Elnino Mohi dari Gerindra, Hamid Kuna dan Guntur Thalieb dari Hanura, serta Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Adnan Entengo, serta Rusli Habibie dan Paris Jusuf dari Partai Golkar.

Menanggapi terbentuknya Koalisi NKRI tersebut, Ketua DPC Partai NasDem Kabupaten Gorontalo, Dr. Rustam HS Akili, SE., SH., MH., mengaku justru sudah lebih dulu membentuk Koalisi Rakyat Menara Limboto (KRML). Partai yang tergabung dalam KRML tersebut, katanya, antara lain, PPP, Partai NasDem, PDIP, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), PKS, dan Hanura.

"Kami membentuk KRML ini bukan untuk bagi-bagi jabatan alat kelengkapan DPRD, tetapi kami memiliki visi dan misi untuk mengutamakan kesejahteraan rakyat. Kalau Koalisi NKRI, saya belum tahu pasti orientasinya kemana," ujar Rustam Akili pada otonominews di Limboto, Rabu (12/06/2019).

Menurut Rustam Akili, sejauh masih ada etika berdemokrasi, dalam politik apa saja bisa dilakukan. Baginya, pembentukan Koalisi NKRI itu wajar. Sama halnya dengan ketika dirinya dan PPP menginisiasi pembentukan KRML. "Sebagai pemenang dan berkuasa di Kabupaten Limboto, PPP yang menjadi inisator pembentukan KRML. Wajar PPP mengajak berkoalisi," paparnya.

Menyinggung kembali Koalisi NKRI, Rustam Akili mengaku tidak tahu persis arahnya. "Saya hanya Ketua DPD, jadi tidak tahu persis arahnya kemana. Tapi untuk DPRD Kabupaten, kami membentuk KRML tanpa Golkar. Sementara untuk provinsi domainnya DPW, tapi saya tidak tahu apakah DPW NasDem diundang oleh yang menginisiasi pembentukan Koalisi NKRI. Tapi itu juga wajar, karena Golkar yang jadi pemenang di provinsi," lanjut Rustam Akili.

Kalau ada partai yang ditinggalkan atau tidak diajak berkoalisi, itu juga dinilainya wajar dan biasa. "Pertanyaannya, apakah sudah ada kesepakatan di antara mereka dengan membentuk koalisi. Sebaliknya, kami di Kabupaten Gorontalo, sudah fix. Kalau di Kabupaten Gorontalo NasDem meninggalkan Golkar, kalau di Provinsi Gorontalo NasDem yang ditinggalkan oleh Golkar. Hanya  saja, kami selangkah lebih dulu dari pada Rusli Habibie dalam membentuk koalisi," lanjutnya.

Rustam Akili menilai, pembentukan Koalisi NKRI bisa saja dipicu dari terbentuknya KRML yang meninggalkan Partai Golkar Kabupaten Gorontalo. "Ini diksi saya. Maka, dalam tanda kutip Rusli Habibie seperti balas dendam dengan meninggalkan NasDem Provinsi Gorontalo, karena tidak diajak berkoalisi. Hanya saja, itu bukan domain saya, karena saya hanya Ketua DPD. Saya tahu sampai di mana kewenangan saya," imbuh Rustam Akili.

Lebih jauh Rustam Akili mengatakan, politik bisa berubah seiring berjalannya waktu. Setiap detik, apa pun bisa terjadi. Jadi, katanya, KRML di Kabupaten Gorontalo bisa berubah, sebaliknya Koalisi NKRI di Provinsi Gorontalo juga bisa berubah. 

Rustam Akili menjelaskan, maksud membuat KRML di parlemen dan sebagai mitra pemerintah, pihaknya harus punya jati diri. Oposisi yang loyal kepada rakyat. Meski sudah berkoalisi, dirinya mengaku tetap akan kritis, objektif, dan profesional.

"Karena kita di DPRD ini untuk memperjuangkan hak-hak rakyat karena kita adalah wakil rakyat. Kalau berkoalisi, katakanlah PPP sebagai pemenang dan sebagai penguasa tetapi kebijakannya tidak pro rakyat, saya tetap pada sikap saya. Karena kita berkoalisi program dan visi. Bukan koalisi bagi-bagi jabatan. Saya bilang, sebagai wakil rakyat harus bersatu untuk memperjuangkan hak rakyat di masing-masing daerah pemilihan. Jadi kita harus bermitra dengan pemerintah," terangnya.

Kembali berbicara tentang terbentuknya Koalisi NKRI yang tidak mengikutsertakan Partai NasDem di dalamnya, dinilai Rustam Akili sebagai bentuk kepanikan Rusli Habibie dan karena emosional, karena di Kabupaten Gorontalo sudah terbentuk KRML sejak tujuh hari sebelum Hari Raya Idul Fitri 1440 H., yang tidak mengikutsertakan Partai Golkar di dalamnya.

Jangan Bentuk Koalisi untuk Bagi-bagi Jabatan di Parlemen

Foto: Rustam HS Akili (kiri) bersama Rahmat Gobel, caleg DPR RI dari Nasdem yang lolos ke Senayan

"Kita membuat KRML, sudah mengundang Partai Golkar, tetapi mereka tidak mau. Itu sebabnya mengapa kami tinggalkan Golkar. Saya katakan bahwa Koalisi NKRI adalah bentuk kepanikan Rusli Habibie, karena saya melihat di sana belum ada kesepakatan apa-apa. Jadi terlihat bahwa membuat koalisi untuk bagi-bagi jabatan. Ada berita yang menyebutkan bahwa PAN dan NasDem gigit jari,  tidak ada itu. Kalau ditanya ke saya, saya justru lebih senang tidak diajak berkoalisi di provinsi. Supaya kita menjadi oposisi yang loyal. Sekali lagi, kalau Koalisi NKRI dibentuk hanya untuk bagi-bagi jabatan, itu artinya hanya koalisi yang haus kekuasaan,"

Dikatakan Rustam Akili, era sekarang adalah era-nya Rahmat Gobel (RG) dari Partai NasDem di Provinsi Gorontalo. Bisa jadi, kata Rustam Akili, Gubernur Gorontalo tersebut memiliki kekhawatiran dengan hadirnya sosok Rahmat Gobel yang menjadi pemenang di Provinsi Gorontalo dengan suara terbanyak. 

"Isteri Rusli Habibie pun kalah perolehan suaranya dari RG. Jadi, bisa jadi Rusli panik. Kalau begini kan bisa dinilai bahwa levelnya Rusli Habibie itu levelnya Rustam Akili, bukan di level RG," tandasnya.

Untuk diketahui, Perolehan suara Partai NasDem di Kabupaten Gorontalo pada Pemilu 2019 sangat spektakuler. Bila pada tahun 2014,  partai besutan Surya Paloh tersebut hanya beroleh satu kursi, pada Pemilu 2019 ini, berhasil meraih tambahan tiga kursi di DPRD Kabupaten Gorontalo. Ini berarti, Partai NasDem mendapat empat kursi yang menjadi modal Partai NasDem membentuk satu fraksi utuh di DPRD Kabupaten Gorontalo dan satu untuk kursi DPR RI.

Populer Berita